HARI HIPERTENSI SEDUNIA, 17 MEI 2020

Hari Hipertensi Sedunia diperingati pada 17 Mei setiap tahunnya.
Tekanan darah tinggi, atau lebih dikenal sebagai hipertensi, merupakan sebuah epidemi di seluruh dunia. Untuk meningkatkan kesadaran ini, setiap 17 Mei setiap tahun diperingati Hari Hipertensi Sedunia.

Berdasarkan laman resmi WHL, tema tahun ini adalah Measure Your Blood Pressure, Control It, Live Longer (Mengukur Tekanan Darah Anda, Mengontrolnya, Hidup Lebih Lama). Tujuan dari pemilihan tema ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tekanan darah tinggi di seluruh dunia.

Secara global, pada 2019, Medscape mencatat sekitar 26% populasi dunia (972 juta orang) menderita hipertensi, dan prevalensinya diperkirakan akan meningkat menjadi 29% pada 2025, sebagian besar di dorong oleh peningkatan di negara-negara berkembang secara ekonomi. Tingginya prevalensi hipertensi menimbulkan beban kesehatan masyarakat yang luar biasa.

Sebagai ‘kontributor utama’ penyakit jantung dan stroke, yang masing-masing menjadi penyebab kematian pertama dan ketiga di seluruh dunia, tekanan darah tinggi adalah faktor risiko tertinggi yang dapat dimodifikasi.
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) merupakan masalah kesehatan utama di negara maju maupun negara berkembang dan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang paling umum dan paling banyak disandang masyarakat.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya.
Pembiayaan JKN untuk Hipertensi terus meningkat tiap tahun
Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan menyebutkan bahwa biaya pelayanan hipertensi mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu pada tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun rupiah, tahun 2017 dan tahun 2018 sebesar 3 Triliun rupiah.
Riskesdas 2018 : 63 Juta lebih penduduk Indonesia menyandang Hipertensi
Riskesdas 2018 menyatakan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua sebesar (22,2%). Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.
Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%). Dari prevalensi hipertensi sebesar 34,1% diketahui bahwa sebesar 8,8% terdiagnosis hipertensi dan 13,3% orang yang terdiagnosis hipertensi tidak minum obat serta 32,3% tidak rutin minum obat. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penderita Hipertensi tidak mengetahui bahwa dirinya Hipertensi sehingga tidak mendapatkan pengobatan.

Alasan penderita hipertensi tidak minum obat antara lain karena :
1. Penderita hipertensi merasa sehat (59,8%),
2. Kunjungan tidak teratur ke fasyankes (31,3%),
3. Minum obat tradisional (14,5%),
4. Menggunakan terapi lain (12,5%),
5. Lupa minum obat (11,5%),
6. Tidak mampu beli obat (8,1%),
7. Terdapat efek samping obat (4,5%) dan
8. Obat hipertensi tidak tersedia di Fasyankes (2%).

Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya menyandang hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Kerusakan organ target akibat komplikasi Hipertensi akan tergantung kepada besarnya peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan darah yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Organ-organ tubuh yang menjadi target antara lain otak, mata, jantung, ginjal, dan dapat juga berakibat kepada pembuluh darah arteri perifer.
Dokter dari Perhimpunan Hipertensi Indonesia Dr. Tunggul Situmorang SpPD-KGH,FINASIM mengatakan tekanan darah merupakan penyebab utama kematian di dunia tapi juga menjadi beban utama sehingga ini menjadi masalah global.

“Semua organ yang memiliki pembuluh darah akan dirusak oleh hipertensi seperti otak,” katanya.
Organ-organ tubuh yang menjadi target antara lain otak, mata, jantung, ginjal, dan dapat juga berakibat kepada pembuluh darah arteri perifer.

Cegah Hipertensi dengan kendalikan Faktor Risiko
Hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan perilaku berisiko seperti merokok, diet yang tidak sehat seperti kurang konsumsi sayur dan buah serta konsumsi gula, garam dan lemak berlebih , obesitas, kurang aktifitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan dan stres. Data Riskesdas 2018 pada penduduk usia 15 tahun keatas didapatkan data faktor risiko seperti proporsi masyarakat yang kurang makan sayur dan buah sebesar 95,5%, proporsi kurang aktifitas fisik 35,5%, proporsi merokok 29,3%, proporsi obesitas sentral 31% dan proporsi obesitas umum 21,8%. Data tersebut diatas menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan data RISKESDAS tahun 2013.

CERDIK dan PATUH atasi Hipertensi
Upaya yang telah dilakukan dalam pencegahan dan pengendalian Hipertensi diantaranya adalah:
1) meningkatkan promosi kesehatan melalui KIE dalam pengendalian Hipertensi dengan perilaku “CERDIK” dan “PATUH”;
2) meningkatkan pencegahan dan pengendalian Hipertensi berbasis masyarakat dengan “Self Awareness” melalui pengukuran tekanan darah secara rutin;
3) penguatan pelayanan kesehatan khususnya Hipertensi, pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti: meningkatkan akses ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu pelayanan;
4) Salah satu upaya pencegahan komplikasi Hipertensi khususnya Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah di FKTP melalui Pelayanan Terpadu (PANDU) PTM,
5) Pemberdayaan masyarakat dalam deteksi dini dan monitoring faktor risiko hipertensi melalui Posbindu PTM yang diselenggarakan di masyarakat, di tempat kerja dan institusi.
Sumber :
http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/subdit-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/hari-hipertensi-sedunia
https://www.liputan6.com/health/read/4256611/hari-hipertensi-sedunia-2020-kendalikan-tekanan-darah-demi-cegah-komplikasi#
https://www.suara.com/health/2020/05/17/071500/hari-hipertensi-sedunia-ketahui-sejarah-dan-tujuan-dari-peringatan-ini

Selalu dicek

Vaksin COVID19 Tahap Pertama, Semangaaat!!!!

Tepat Tanggal 1 Februrari 2021, RSUD Puri Husada Tembilahan memulai Vaksinasi terhadap seluruh Karyawan/Karyawati di …